MENGAPA

Sang Awan memayungi dan sang Angin kian berhembus silih berganti

Langit seakan penuh bersaksi

Seakan bumi pun berkata

Tolong Aku,……lindungi aku…..dan selamatkan aku tuan yang mulia….

Aku tak sanggup menerima perilaku yang tak pernah memihak padaku

Apa kah kalian tak tahu Atau justru tak mau tahu dengan penderitaanku

Bahkan tak mengindahkan jeritanku hiterisku

Mugkin aku terlalu sabar atau kalian yang terlalu congkak dengan ini semua

Ingatkah klian.,.,

Dimanakah kalian sedang berdiri saat ini?

Disini…..Diatas punggunggku kalian bertengger riang

Punggungku telah habis kalian garuk

Perutku telah habis kalian kuras tak bersisa

Apakah kalian pantas tuk tetap berada disisiku

Aku memang tak terlalu kuat untuk menahan pilumu

Namun layakkah perlakuan kalian ini hanya tertuju untukku

Kehidupan kalian masih belum berakhir tuan

Dimana letak kemulyaan kalian,

Kemana mau kalian bawa amanah yang telah termaktub itu

Untuk senantiasa menjagaku…….merawatku……….dan memakmurkanku

Semua yang kalian butuhkan telah daku berikan

Namun kenapa kalian begitu sangat tega kepadaku

Kalian kejam……Kalian jahat……Kalian egois……Kalian serakah……Kalian tamak………Kalian rakus

Lupakah kalian akan janji-janji busuk itu  yang

Berdalih untuk merubah keadaan yang kian parah ini.,.,.,.,.

Menjadi lebih baik

Sadis.,.,.,.,.,.,.

Sungguh kalian sangat sadis..,.,.,.

Iklan

KETIKA HATI BERBICARA

Pagi itu terasa hening suasana dalam hati yang mengisyaratkan akan terjadinya sebuah peristiwa yang tak lazim ketika suara anak anak bergembira menepiskan beragam suka, ria  seolah tak ada yang salah dengan dunia ini begitupun langit berwarna biru cerah merona menampakkan senyumnya menyapa setiap makhluk yang ada dibumi keramahan itu yang tidak tampak sama sekali di wajah seorang anak yang selalu melampiaskan kekesalannya setiap saat dengan segudang tanda tanya. Mengapa semua ini harus terjadi padanya, apakah ini sebuah taqdir atau hanya sebuah lukisan dongeng kehidupan yang menghantarkannya menjadi seorang anak yang tidak jelas kemana harus isa langkahkan kakinya, kemana hendak ia curahkan isi hati yang bercokol dalam hatinya. Setiap nasehat, kata maupun wejangan dari orang, teman dan saudara bahkan kedua orang tuanya tak mempan merasuk kedalam sanubari. Apakah dia telah mati atau hanya sebuah halusinasi yang selalu mengiringi dalam kehidupan., hmmmm.,.,entahlah, terkadang teramat miris dan sedih ketika melihat si seorang anak desa yang selalu mendapat perlakuan kasar yang tak kunjung usai dalam hidupnya yang selalu ditunukkan oleh orang tua, saudara-saudaranya bahkan lingkungannya tempat dia bernaung dan bergaul. Hidup dalam suasana yang tidak harmonis ditambah lagi pendidikan keluarga yang tidak memadai untuk menyalurkan setiap detak keingin tahuannya terhadap sesuatu, mengakibatkan ia harus menderita dan mengubur setiap keinginannya meraih sesuatu. Tak jarang dia melakukan sesuatu diluar kebiasaan yang dilakukan oleh orang sebayanya.

Seakan bukan sebuah pilihannya namun hal itulah yang terjadi ketika banyak anak sebayanya bermain dengan sangat riang tiba giliran malah menjadi sebuah bisikan bathin yang tak kunjung selesai dimanapun dia berada kewajiban mencari nafkah bukanlah sebuah keharusan bagi seorang anak melainkan sebuah tanggungjawab dari orang tua konsekuensi dari sumpah yang di ikrarkan dalam ijab qabulnya, masalah ini memang cukup rumit dan sangat serius dimana anak berumur 7 tahun harus menggarap kebun seluar kurang lebih 4 hektar dengan bermodalkan keyakinannya bahwa dia mampu menjadikan semak belukar tersebut disulap menjadi pundi-pundi emas yang dapat menghantarkannya menuju cita-cita yang mulia menghantarkannya kemana yang menjadi kehendaknya. Terkadang kebingungan selalu menghantui dalam fikiran mengapa hal ini selalu berulang-ulang kali terjadi padanya.

Tinggalkan ayah tinggalkan ibu

Biarkan daku pergi berjuang

dibawah naungan panji iman
aku maju dan terus menyerbu
jangan kembali pulang


sebuah lirik penyemangat itu menghajar setiap langkah malas yang menyelimuti hatinya,

 Euforia Hiruk-pikuk Ibu Kota

Siang itu terdengar suara lolongan kenalpot mobil dan sepeda motor yang memadati jalanan bagaikan ulat menggeliat ditengah teriknya matahari yang menyengat, panas,sesak,bergumul dengan keringat yang mengguyur tumpau ruah bagaikan hujan deras kuyup membasahi seluruh badan. Aroma asin,asem, kecut, jadi satu terbungkus ari-ari aurat ini, bagaikan buruh pekerja kasar disuatu pabrik membasahi disetiap celah bajuku. Layaknya  ibu kota provinsi pada umumnya  Pekanbaru menjadi ikon pendidikan dan pekerjaan yang menutut seluruh lapisan masyarakat menghentakkan kaki mencari selembar rupiah demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Aku pada waktu itu tak tahu menahu tentang seluk beluk ibu kota ini memaksakan diri untuk hijrah menjelajahinya tak kenal rasa letih maupun lesu aku babat semua halangan rintangan yang menghalau didepan mata, hal ini aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus merupakan tanggung jawab moralku sebagai tenaga pendidik disebuah sekolah swasta. Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) atau yang sering terdengar dalam kalangan orang bahasa arab atau sejarah dengan sebutan Kutab, yaitu sebuah sekolah swasta yang berada disebuah masjid-masjid atau mushalla. Dalam perkembangan serta hasil penyesuain dengan akulturasi kebudayaan yang ada di Indonesia maka nama tersebut berubah menjadi MDA( Madrasah Diniyah Awwaliyah) nama kutab sendiri termasyhur di negara timur tengah, seperti Universitas Al-Azhar yang terletak di ibu kota negara Mesir yaitu Kairo dahulunya juga merupakan sebuah pendidikan non formal yang didirikan pada masa daulah Hasyimiyah berbentuk sebuah tempat pendidikan atau pengajian ilmu-ilmu agama dan tempat mengaji al-qur’an biasa.

Pengalamanku, Tantanganku dan Siapa Dia?

Suka maupun duka kualami dengan sepenuh hati bagiku mengajar merupakan sebuah kewajiban yang menuntut sebuah tanggung jawab dan loyalitas yang sangat tinggi tidak mungkin aku pisahkan dalam kehidupanku karena hal itu termaktub dalam hati nurani ini, mengajar adalah panggilan jiwa, termanifestasikan dalam hati dan dikerjakan memalui sebuah gerakan dan usaha agar dapat berjalan sesuai dengan keinginan dan tujuan pendidikan itu sendiri. Mengajar adalah cintaku sedangkan murid-murid yang aku ajar bagaikan buah permata yang tak ternilai harganya dibandingkan dengan yang lain, sungguh hal tersebut tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena apa yang dirasakan dalam hati belum tentu bisa diucapkan oleh lidah.

Pengalaman pertama yang aku dapati ketika mengajar sangatlah eksotis penuh dengan nuansa pengalaman,sarat akan kecanggungan, gugup yang tidak mampu teredam, tak tahu apa yang akan dibicarakan didepan para murid. Mereka menatapku bagaikan harimau mengintai mangsanya buas, tajam,penuh dengan tanda tanya, akan tetapi dibalik ketajaman pandangan mereka aku melihat ada binar-binar harapan yang muncul dari setiap diri mereka untuk mendapatkan kewajiban mereka sebagai layaknya penuntut ilmu. Dengan raut wajah yang masih polos, belia, ekspresi keikhlaskan yang tidak pernah aku lihat selama ini. Terpaku serta terdiam sejenak memikirkan materi yang telah kupersiapkan tadi malam murid-murid pun demikian larut dalam suasana hening nyaris tanpa kata sedikitpun yang sedari tadi terus melihatku dengan penuh serius dan misteriusnya. Didalam keheningan yang tak begitu lama tiba-tiba terdengar suara dari belakang kursi yang berada dipojok kanan ruangan kelas, seorang murid berjenis kelamin laki-laki melontarkan sebuah pertanyaan. Dengan lantang dan suara keras dia bertanya kepadaku.

Murid: ehm.,.,” Nama ustadz  Siapa?

Aku langsung terhentak,terbangun dari kediamanku sedari tadi mematung didepan kelas tanpa sepatah kata tanpa kusadari tiba-tiba aku terfokus dengan nada suara yang lugu dan polos itu,.!! Seraya berusaha menjawab pertanyaannya.

Guru:“ Nama bapak,Maulana…..!!!

Dengan tanpa basa-basi seluruh murid yang ada dalam kelas tersebut menghujaniku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, selesai satu pertanyaan timbul pertanyaan baru dari murid-murid yang berbeda pula. Mulailah disana pembuka hiwar tanya jawab tentang berbagai hal tentang ta’aruf padahal secuil katapun belum saya buka tentang materi tersebut namun pada murid antusias dengan perkenalan ini, ada salah seorang santriwati, sebut saja namanyya Aliya menanyakan hal yang membuatku tersentak seolah pertanyaan itu telah pernah ada terjadi sebelumnya.

Aliya:”Ustadz tinggal dimana, masih kuliah ya?

Ustadz: “Ustadz tinggal di Jl. Cempaka Gg.Surya,No.41 A. Sukajadi-pekanbaru,ya alhamdulillah ustadz masih kuliah,nak..!!!”. panggilan sayang tersebut adalah strategi jitu seorang guru untuk mendekatkan diri dan mencairkan suasana antara guru dan muridnya.

Aliya:”Kuliah dimana Ustadz, dan jurusannya apa. Sebab kakak saya juga kuliah lho?!!.he…he..he…. nadanya tertawa sendu sedang mempromosikan kakaknya?

Sang ustadz pun membalas tertawa sibudak yang sepertinya ingin menjodoh-jodohkan kakaknya dengan ustadz tersebut, namun ustadz pun sadar diri dimana posisinya sekarang, lalu ustadz menjawab pertanyaan  si Aliya.” Ustadz kuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, atau dalam bahasa kerennya sering disingkat dengan UIN SUSKA RIAU, nak..!!! jurusannya Pendidikan Bahasa Arab…….!!! sang ustadz merespon promosi si Aliya tadi dengan mengatakan.” Emang kakaknya Aliya Jurusannya apa?. Aliya lantas menjawab.” Jurusannya Psikologi law gk salah.,,.,.hahahahahah.,.,nada tertawa terulang kembali. Kali ini sang ustadz menjawabnya dengan nada seru seolah-olah mendengar berita yang biasa dengan mengatakan”oooo….ooooo….!!!! tanpa menunggu jeda Aliya bertanya lagi” ustadz kenal gak dengan kakak saya….?????

Ustadz menyambung pertanyaan sekaligus menjawab pertanyaan Aliya” emank naman kakaknya siapa,ya? Khan di UIN tu banyak akhwatnya.,.,.sembari mensunggi senyum manis kepada Aliya menjawab, si bocah imut berpenampilan menarik tersebutpun tidak kalah hebohnya dengan pasti dia berkata” Nama kakak saya Syifa Maulidya al Mutia Tenar. Ustadz pun menjawab” cantik ya namanya..ya!!!. belum sempat lagi melanjutkan percakapan seterusnya tiba-tiba lonceng mendesing ditelinga menandakan bahwa jam pergantian pelajaran pun telah selesai. Detak kagum bercampur dengan rasa gemas dan geras akibat tingkah polah yang dilakukan budak-budak kecil yang menawarkan aroma kedekatan dengan seorang guru yang baru kali terjun disebuah proses pembentukan pribadi anak manusia. Detak demi detak jerami jam berputar hitungan detik  tak lagi terasa terdengar menit pun demikian tak tampak berlalu berjalan bahkan jam demi jam bagaikan kedipan sebuah bola mata yang menunggu saat pelajaran usai. Kerinduan yang menghujam dalam dada ini tak kian mereda, rindu akan senyuman ikhlas yang merona dari wajah belia mereka. Ya rabb……seandainya engkau izinkan waktu ini untuk  memutar kembali setiap peristiwa yang terjadi sekedipan mata saja, pasti akan aku abadikan sebagai kenagan terindahku meraskan manisnya sebuah awal dari pertemuan.

Sang Keramat Mengamuk

Suara lonceng lagi-lagi meraung-raung dengan hebatnya karena bukan hanya sekali akan tetapi berulang-ulang kali , mendesing ditelinga yang memekakkan setiap insan yang berada diruangan kelas itu menandakan bahwa berakhirnya sebuah jam pertemuan, entah mengapa bercak ketidak inginan beranjak dari ruangan kelas itupun semakin  nyata saat murid-murid tersebut juga seakan-akan tidak ingin enyah dari majlis ilmu tersebut. Namun apalah daya waktu untuk bertemu masih terlalu panjang dirasakan, mungkin masih ada hari esok bahkan minggu depan masih ada waktu untuk bersua kembali dihadapan para sang penuntut ilmu yang tulus serta ikhlas tersebut.

Waktu menunjukkan pukul 05.00 Wib, menandakan bahwa saatnya untuk kembali ke sanggar kehidupan yang tercinta. Lumayan jauh perjalanan yang akan saya lalui dari tempat sanggar  lasykar pembaharu itu menuju sanggar kehidupan yang tercinta yaitu kost, kira-kira perjalanan 40 menit mengendarai sepeda motor dengan kecepatan Max 70 KM/jam. Namun itu semua tidak membuat saya jenuh dan bosan bahkan hal tersebut merupakan sebuah kemudahan bagi saya untuk mengaplikasikan serta mensinergitaskan antara ilmu dan amal sesuai tuntunan yang sudah digariskan oleh baginda Rasullah Saw, dalam sebuah riwayatnya yang berbunyi “ Khoirukum man ta’allamal Qur’an wa’allamahu”. Yang artinya sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari al-qur’an dan mengajarkannya( HR.Muslim). Inilah motivasi terbesarku untuk menggapai ridho illahi. Begitu halnya dengan mempelajari bahasa arab merupakan bagian dari mempelajari al-qur’an maka haruslah di amalkan kepada orang lain. Sungguh motivasi yang tiada taranya.

Hari mulai menampakkan kelamnya, matahari kian lelah layu menukik di ufuk barat, dunia dan seisinya menjadi gelap karenanya. Begitupun halnya dengan waktu yang semakin detik, menit menuntun manusia bagaikan rambu-rambu yang tak terlupakan. Sungguh betapa besarnya jasamu wahai waktu yang menuntun manusia dikala tidur, kerja, makan, minum dan seluruh kegiatannya engkau atur dengan baik betapa sesahnya kami jika engkau tiada berkarya seluruh kegiatan yang ada di dunia ini bagaikan hampa tanpa secercak peninggalan yang tiada berarti sedikitpun , carut marut tak beraturan akibat ketiadaanmu. Berapa banyak orang yang menjadi karya akibat aturanmu, berapa banyak juga orang yang miskin karenamu, berapa banyak pula orang yang pintar karena aturannya, berapa banyak juga orang yang sukses karena hidupmu. Engkau menghantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik mana kala mereka sadar akan pentingnya waktu.

Misteria dan Histeria

Pagi yang dingin nyaris tak menyebutkan tanda kelaliman biasanya, karena semalan bumi ini telah dibasahi oleh tetesan embun yang mengisyaratkan bahwa telah turun rahmat Allah tadi malam,gumpalan awan melingkar,mewarnai  begitu indah langit ini seakan tersenyum menampilkan keanggunan tatkala melihat fajar pagi mulai meninggi di bagian timur belahan bumi. Berbagai jenis pepohonan menari – nari dengan hebatnya, kicauan aneka raga jenis burung sekalipun tak ingin ketinggalan dengan suasana ini, suara bening serta merdu menyumbangkan ketenangan suasana pagi melambaikan keasriannya sebuah petak sanggar kehidupanku yang berukuran 4×6 M/segi yang terletak di salah satu sudut terpencil dari ibu kota provinsi yang berpenduduk + 9,486 juta  jiwa ini. Disanalah tempat aku mengolah segala informasi yang ada,menjalani rutinitas insaniyah. Suasana nyaman, tentram hadir menemaniku khas layaknya pedesaan ditengah kerumuman sebuah ibu kota propinsi. Sayup terdengar olehku suara penggilan yang tak tau dimana datangnya namun itu sangat dekat kurasakan ditambah deringan alarm jam yang berteriak membangunkanku melalui hanphone seluler, bergegas ku berjalan dengan mata kurang dari lima watt kupaksakan untuk menyandangi sumber air dari kamar mandi agar terasa lepas mata ini untuk memandang, kubasuh wajah ini dengan air dingin menyejukkan sentak tiba-tiba mata ini terbuka dengan lebarnya, kubasuh beberapa bagian yang menjadi keharusan syar’i dalam melaksanakan shalat. Segera kugapai sajadah yang masih melingkas pada jeruji tempat biasa aku meletakkannya. Waktupun kian mendesakku, menghantarkanku untuk segera bergegas meninggalkan   kediaman pagi yang aromatik itu. Melihat keanehan yang tak terjadi seperti biasanya salah seorang rekan,menyapaku dengan nada lirih,sambil memejamkan mata, seraya berkata kepadaku. “nak kemano miko pagi-pagi buta dah macem orang kesurupan ja, jalan sana,jalan sini.? Dengan nada terburu-buru aku menjawab pertanyaan itu.” Nak pegi kuliah la…!!! lalu dia membalas.” Pagi betol? Namun kali ini tak kuhiraukan pertanyaan karena aku memburu waktu agar cepat sampai pada majlis ilmu di kampus.

Tak terasa berlalu, waktu yang begitu singkat jam menunjukkan pukul 12.30 wib mengisyaratkan bahwa telah masuk waktu shalat Dhzuhur. Bergegas ku mengejar masjid yang terdekat untuk menunaikan kewajiban selayaknya seorang hamba kepada khaliknya. Setelah semuaya tunai, maka kini saatnya untuk beraksi memenuhi panggilan hati, membangun generasi ummat yang madani. Ku pacu kendaraan mengitari setiap ruas-ruas jalan,melintasi setiap jengkal kendaraan yang lalu dan lalang di badan jalan yang ada untuk segera sampai ke sanggar perubahan tersebut. Entah kenapa pertanyaan hebat selalu muncul dalam dentuman dada ini, terpaut dengan ingatan minggu kemarin, tergambar kelucuan dan kecanggungan yang begitu dalam. Namun itu semua hanyalah fiksi semata telah hadir kembali saat-saat yang nyata tepat didepan mata untuk mengawali ukiran indah babak baru yang lebih seru lagi. Kusandarkan sepeda motor dengan buru-burunya kerangkak setiap tangga sekolah untuk menuju kelas yang ingin aku ajar.

Assalamu’alaikum….!!!

Langkah kaki kanan mengawali masuk didepan pintu sekolah. Serentak para santri dan santriwati menjawab salam saya dengan lagaknya.

Wa’alaikumsalam warahmatullahu wabarakatuhu……!!! khas bagaimana anak-anak MDA menjawab salam…

Disinilah the real teaching pertamaku akan segera dimulai. Tanpa bertele-tele lagi langsung kusapa para santri/santriwati tersebut dengan sapaan menggunakan bahasa arab.

Ustadz :’ kaifa halukum jami’an ayyuhat tholabah?

Santri : “ mereka semua terdiam tanpa kata sambil menoleh kekanan dan kekiri melirik-lirik temannya seraya berbisik-bisik,,”woii……….apa yang dibilang ustadz tu?. Samar-samar kudengar pembicaraan mereka, lantas kucoba untuk menjelaskan maksud sapaanku tadi.

Ustadz:”Adik-adik yang tercinta semuanya, yang kakak bilang tadi adalah kata sapaan yang digunakan dalam bahasa arab untuk menanyakan kabar kepada seseorang yang telah kita kenal”.

Sambil mengambil spidol kutulis kata tersebut di di whiteboard yang berada disampingku. Pada santri mereka serius menyimak apa yang disampaikan oleh ustadz yang ada didepan kelas.

Ustadz:” Nah sekarang adik-adik ulangi lagi ya……..!!! baca apa yang kakak tulis didepan kelas?

Dengan semangat 45 para santri mengulang kalimat tersebut.

Santri :” kai……..fa ha……..lukum…..??. kai……..fa ha……..lukum…..?? . kai……..fa ha……..lukum…..??

Tanpa diinstruksikan oleh ustadz tersebut para santri mengulang kalimat tersebut sebanyak 3x sepertinya mereka sudah terbiasa dengan menghafal.

Ustadz :” kira-kira ada yang tau artinya gak?

Santri :” serentak mereka menjawab..engga…kkkkk!!!

Ustadz :” artinya adalah” Apa kabar kalian semuanya?

Santri :” alhamdulillah kami baik-baik saja”…heheheheh.,

Nada yang sedikit mencemeeh. Maklum anak-anak selalu membuat keanehan tersendiri dalam suasana tertentu. Itulah uniknya mereka dari pada orang-orang dewasa.

Ustadz :” sekarang kakak bertanya pada kalian,ada yang tau apa jawaban dalam bahasa arabnya?

Santri yang duduk paling depan mengacungkan tangan, seraya berkata:” law gak salah ustadz..ee.. kak, jawabannya pakai bahasa arabnya adalah” alhamdulillah bikhoirin”. Lantas sang ustadz yang menyamar sebagai kakak mereka memberi sebuah penghargaan,dengan mengatakan:

Ustadz:” ziiihhh anti!! Sambil menyodorkan jempol dihadapan santri yang dituju tersebut.

Suasanapun tambah gaduh dengan suara para santri yang memperaktikkan gaya ustadz tersebut kepada teman sebayanya. Sang kakak pun memperingatkan kepada para santri dengan mensunggingkan senyuman kesayangannya. Dan berkata:

Ustadz:” sudah adik-adik, sekarang kita belajar ya…….??

santri :” na’am ustadz..ee.. kakak…!!

ustadz:” besok atau dirumah boleh diperaktekkan sama orang tua, kakak yang punya kakak tegur mereka dengan mengatakan,apa?

Santri : “ kaiiifa haaalukum.,.???

Ustadz:”jawabannya”!!

Santri :” alhamdulillah bikhoirin”!!!!!

Ustadz:”wahhhh….adik-adik kakak sudah pandai berbahasa arab sekarang ya?

Santri :” heheheheheh.,.,.,.”

Para santri membalasnya dengan cengengesan saja…tiba-tiba dari depan sebelah kiri ada seorang santri terburu-buru sambil berlari kecil,sepertinya ingin permisibuang air kecil kekamar mandi. Segera menghampiri ustadz yang sedang berdiri didepan dan berkata:

Santri:” permisi ustadz, mau kekamar mandi buang air kecil..??

sambil menahan-nahan perutnya mungkin sudah tidak tahan lagi, dalam benak ustadz tersirat untuk mengajarkan bagaimana etika permisi menggunakan bahasa arab.

Ustadz:” tafaddhol.. khuruj”

Santri tersebut lantas tunggang langgang lari dengan sekencang-kencangnya menuju kamar mandi. Sembari menunggu santri yang keluar tersebut sang ustadz menjelaskan kepada santri lain.

Ustadz:” bagi adik-adik yang ingin permisi, sekarang kita akan menggunakan bagaimana kalimat permisi dalam bahasa arab”.

Ada seorang santri dengan celotehnya melontarkan sebuah pertanyaan yang sepertinya penasaran dengan kata itu.

Santri :” bagaimana kalimatnya ustadz”?

Ustadz :” Nah coba sekarang adik-adik perhatkan dan ikuti setelah kakak berbicara ya.,??Asta’zinu ya ustadz………..!!!!!!!

Tanpa jeda santri serentak mengikuti,”Asta’zinu ya ustadz…..!!!! ustadz pun memberikan pertanyaan kepada para santri.

Ustadz:” siapa dari kalian yang sudahtau artinya”?

Santri :”permisi ustadz..,.??

Ustadz:”bagus,kalian memang santri yang pintar-pintar semuanya.,.,??

Tiba-tiba lonceng menunjukkan keganasannya mengisyaratkan bahwa telah berakhirnya jam pelajaran bahasa arab, ekspresi yang terlihat pada setiap ruas santri menandakan mereka sedang antusias-antusianya belajar bahasa unta tersebut seakan tidak indin usai pada waktu ini mereka menghela nafas dan berkata:

Santri:” yea…………………lonceng bunyi,ustadz kapan lagi kita belajar bahasa arabnnya,seru lho law ustadz yang mengajar. Beda dengan guru-guru yang lain” hehehehehe. Celoteh beberapa orang santri.

Ustadz:” adik-adik semuanya minggu depan khan masih da ge pertemuan pelajaran bahasa arab…!! ustadz menjawab ekspresi harapan itu.

Ustadz:” baiklah adik-adik semuanya berhubung karena jam pelajaransudah habis maka kita akhiri pertemuan ini dengan melafalkan do’a kafarotul majlis.

Ustadz dan santri:” Subhanakallahumma wabihamdika asy – hadu alla ilaha illalah wa asy – hadu anna muhammadar rasulallah.

 ***

Tragedi Menjelang Senja

Jam pelajaran pun usai baru dua kali pertemuan seolah-olah kedekatan antara ustadz yang mengajar dan para santri bagaikan telah kenal serta dekat sejak lama antara kakak dan adik para santri menghargai kakaknya dan sang ustadz pun  demikian menyayangi adik-adiknya dengan, tulus dan  sepenuh hati. Sang ustadz bejalan menuju sepeda motor yang diparkir, mensarter kemudian menancapkan gas kabur meninggalkan sanggar perubahan tersebut. Sepertinya ustadz tersebut terburu-buru karena ada janji belajar bersama sahabat-sahabatnya di kost teman yang lumayan jauh jaraknya. Selain rutinitas sebagai tenaga pendidik sang ustadz adalah sorang yang aktif diberbagai organisasi serta komunitas pembelajaran bahasa yang sering diadakan teman-temannya, maka tidak mengherankan jika sang ustadz sering terlihat tergesa-gesa dalam perjalanan. Dalam keadaan yang penat, letih dan lesu aku memacu sepeda motor tersebut dalam keadaan yang cukup kencang, menyalip disetiap tikungan, menggunting setiap mobil,trus,bus yang menghadang didepan mata, bak laksana seorang valentino rossi yang sedang kerasukan hantu balapan karena sedang ditunggu sebuah janji sehingga pada persimpangan tiba-tiba berpapasan dengan sebuah truk yang melintas secara tiba-tiba, tanpa berfikir panjang kecelakaan pun tidak bisa dihindarkan. Suara sirene mobil ambulan mendesing,meraung kesurupan melibas setiap mobil bahkan mobil yang satu ini tak kenal rambu-rambu lalu lintas semuanya di babat abi, pasar bagaikan jalan tol bebas hambatan  karena dalam keadaan darurat membawa seorang ustadz yang beberapa menit yang lalu mengalami kecelakaan hebat.

Nyawa dipasrahkan kepada sang khalik yang memiliki kemampuan menghidupkan dan mengambil nyawa anak manusia, sang ustadz mujahid terbaring di dalam mobil ambulan yang terburu-buru itu berusaha menyelamatkannya dari maut. Setibanya pada salah satu rumah sakit swasta beberapa orang perawat sudah menanti untuk menyambut kedatangannya, sang ustadz dibawa keriang ICU untuk ditangani lebih lanjut, sebab sedari tadi ustadz tersebut belum juga menyadarkan diri.

Terlihat beberapa orang tim medispun sibuk menanganinya dengan serius, meneliti setiap luka yang bersimbah ditubuhnya, sewaktu tabrakan tadi terlihat amat begitu parah luka yang dialami oleh ustadz karena mengeluarkan darah segar dari hidung dan telinganya, helm yang terpecah belah menjadi 3 bagian, dan sepeda motor yang entah bagaimana bentuknya.  setelah beberapa menit kemudian sang dokter keluar dari ruang ICU untuk mengabarkan kedaannya. Tampak diluar telah menunggu para adik-adiknya yang ia ajar tadi, dengan ekspresi penasaran bercampur kesedian menunggu kabar sang idolanya. Sang dokter medis mengatakan:

Dokter:” alhamdulillah, tidak ada luka yang serius yang dialami oleh ustadz tersebut namun dia belum sadarkan diri, mungkin karena shock saja..

Para santri yang mendengar terlihat sedikit lega sentak melafalkan do’a untuk ustadznya agar segera diberi kesembuhan. Salah seorang keluarga dan majlis guru menyanyakan kepada dokter.” Apakah kami diperbolehkan masuk dok?

Dokter:”ooo..,silahkan,!!!

Lantas mereka segera menyambangi ustadz yang terbaring tak berdaya didepan tempat tidur yang dari tadi belum juga sadar diri. Suara adzan maghrib terdengar dengan merdunya yang dilantunkan oleh  suara muadzin. Mereka segera menunaikan shalat maghrib berjama’ah setelah itu mendo’akan ustadnya kembali dengan suara dan tangisan yang histeris meminta kepada sang khalik agar menyadarkan dan menyembuhkan ustadz mereka.

Tak berlangsung lama setelah jeda shalat maghrib ditunaikan sang ustadz pun tersadar dari komanya selama 5 jam yang lalu. Bergegas para santri masuk dalam ruangan dan mengahampiri yang ustadz.

Santri:” Ustdz,kaifa halukum?

Dengan nada terbata-bata dan berlinagan air mata sang ustadz berusaha menjawab pertanyaan dari santrinya.

Ustadz:” al….hamdu lil…lah…”

Santri:”ustadz law dah sembuh ajarkan kami bahasa arab lagi ya ustdz, kami bahasa arablagi ya?

Ustadz:”Insyaallah…nak!! sambil mengelus pundak dari salah seorang santri..menitikkan air mata haru kepada para santrinya.

Sebulan telah dilalui dengan absen dari mengajar namun ruh ustadz tersebut masih bertautan erat dengan santrinya ingin sekali rasanya mengajarkan mufrodar demi mufrodat kepada santrinya dengan harapan semoga kelak santrinya agar bisa menjadi seorang ahli bahasa arab yang tak kalah hebatnya dengan dirinya.

Sang ustadz pun memaksakan diri walaupun dia ingat bagaimana keadaan tubuhnya belum sempurna sangat kesembuhannya, dalam hati ustadz selalu berdesis mengajar dan mengajar. Mengajar adalah panggilan hati apabila hati telah berkata maka hal yang tak mungkin akan menjadi mungkin,yang tak bisa akan menjadi biasa, samar menjadi  bisa terbaca,mengubah pahit menjadi manis, membuat setan menjadi malaikat. Begitupun sebaliknya manakala hati kusam maka kusamlah apa yang dirasa,dilihat,didengar. itulah kerinduan yang sebenarnya yang terdapat dalam diri sang pencerah,kerinduan akan sebuah proses perubahan pembentukan pribadi ummat yang luhur itu.

***

MENGAPA ?

Sang Awan memayungi dan sang Angin kian berhembus silih berganti

Langit seakan penuh bersaksi

Seakan bumi pun berkata

Tolong Aku,……lindungi aku…..dan selamatkan aku tuan yang mulia….

Aku tak sanggup menerima perilaku yang tak pernah memihak padaku

Apa kah kalian tak tahu Atau justru tak mau tahu dengan penderitaanku

Bahkan tak mengindahkan jeritanku hiterisku

Mugkin aku terlalu sabar atau kalian yang terlalu congkak dengan ini semua

Ingatkah klian.,.,

Dimanakah kalian sedang berdiri saat ini?

Disini…..Diatas punggunggku kalian bertengger riang

Punggungku telah habis kalian garuk

Perutku telah habis kalian kuras tak bersisa

Apakah kalian pantas tuk tetap berada disisiku

Aku memang tak terlalu kuat untuk menahan pilumu

Namun layakkah perlakuan kalian ini hanya tertuju untukku

Kehidupan kalian masih belum berakhir tuan

Dimana letak kemulyaan kalian,

Kemana mau kalian bawa amanah yang telah termaktub itu

Untuk senantiasa menjagaku…….merawatku……….dan memakmurkanku

Semua yang kalian butuhkan telah daku berikan

Namun kenapa kalian begitu sangat tega kepadaku

Kalian kejam……Kalian jahat……Kalian egois……Kalian serakah……Kalian tamak………Kalian rakus

Lupakah kalian akan janji-janji busuk itu  yang

Berdalih untuk merubah keadaan yang kian parah ini.,.,.,.,.

Menjadi lebih baik

Sadis.,.,.,.,.,.,.

Sungguh kalian sangat sadis..,.,.,.